From Nothing to Something (1)

by - November 19, 2019

Hai. Rujuk kembali dengan dunia per-blogging-an. Setelah banyaknya hiruk-pikuk, naik-turun, pasang-surut, jatuh-bangunnya kehidupan menggugah kembali diri untuk aktif menulis lagi. Yaa walaupun entah siapa yang akan baca, tapi hasrat ingin membagikan apa yang aku lalui cukup kuat. Siapa tau kan, bisa saja ada yang tertolong, tergugah, terhibur, atau ter-apa-lah dari tulisanku. Sudah bulat keputusan, kunyatakan blog ini akan berisi tentang perjalanan hidupku selama ini yang bisa kubilang cukup berlika-liku. Perjalananku dalam menemukan jati diri, dalam berdamai dengan diri sendiri dan perjalananku dalam meraih mimpi.

Draf pertamaku.
A brief introduction would maybe be a proper way to start.
Hai lagi. Aku Ajeng, 23 tahun. Tinggal di Jogja, lahir di Solo. Sarjana Pendidikan. Saat ini sedang mencoba keberuntungan di negeri sebrang Jerman.
Okay, I think that's proper enough.

 From nothing to something.
 Mungkin sudah banyak cerita di luar sana tentang perjuangan hidup mereka yang tidak mudah, bagaimana mereka bisa sampai di titik, di mana mereka semua pada akhirnya bisa melampaui semua masalah. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari situ. Atau bahkan mungkin dari cerita-cerita itu, diri kita tanpa disadari termotivasi, entah kekuatan magis apa yang ada didalamnya. Lagi-lagi ingin aku menambahkan koleksi cerita yang ber-hashtag perjuanganhidup di dunia per-internet-an ini.

So... let's begin
Aku dibesarkan hanya oleh seorang wanita yang sangat sangat kuat, my true Iron Lady, my Mom. Ya bisa dikatakan bahwa aku tumbuh dari keluarga broken home. I actually don't like this term though, seriously. Yeah, my family was pretty well damaged but that didn't mean that we weren't happy back then. In fact, I was really happy living only with my mom. Ah tapi peduli apa, itu hanya sebuah label semata aja. Sejak umur satu tahun tak berayah, tapi aku tak menghiraukan itu. Hidupku baik-baik saja tanpa seorang ayah, merindukan kehadirannya pun nggak pernah sedetik ku rasain. Aku sudah terbiasa hidup dengan Mamaku. Sosok yang benar-benar mampu menggambarkan apa itu ketangguhan, dan yang mampu mendefinisikan dengan jelas apa itu arti tanggung jawab tanpa dengan banyak kata. Pada kenyataannya, semua perkerjaan yang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah, diambil alih oleh Mamaku. Tanggung jawab dari ayah kandungku sampai di umurku saat ini NIHIL. Tak kusalahkan ayahku pun tak membencinya. Buang-buang tenaga saja. Dia sudah bahagia dengan istri dan anak-anaknya. Pun aku sudah bahagia dengan hidupku sekarang. Aku sudah memaafkan ayahku. Hidup berdua, dengan segala kebutuhanku tentu tak begitu mudah untuk Mamaku. Kesana-kemari untuk pendidikanku yang terbaik. Baru kusadari sekarang, begitu naif aku yang dulu. Tak menyadari betapa berat beban yang dipikul Mamaku saat itu. Ku ingin ini, itu semua hampir kudapati. Keluargaku Mamaku memang merupakan sebuah keluarga yang terpandang di kota asalku, jadi saat itu (sekali lagi, saat itu) aku benar-benar bisa hidup nyaman. Tak sedikit kerabat yang mencela bahwa Mamaku terlalu memanjakan diriku dan mengatakan bahwa Mamaku sedang menggali lubangnya sendiri.
Hingga waktu terus berjalan dan singkat cerita sampailah di titik, di mana permasalahan yang benar-benar berat mulai mengetuk pintu depan. Aku sudah tumbuh remaja, sudah mampu berfikir lah apa yang sedang terjadi. Kasus gali lubang tutup lubang mengubah segalanya. Aku yang memiliki segalanya, perlahan, satu per satu hilang. Tak mudah, benar-benar tak mudah. Kerabat yang seharusnya saling menguatkan, satu per satu berpaling menjadi musuh yang benar-benar harus dihindari. Kadang aku merasa, kisah hidupku benar-benar dramatis layaknya film layar lebar. Hingga akhirnya, aku kehilangan Mamaku. Bukan kehilangan untuk selamanya, untuk sementara, untuk waktu yang tak dapat dipastikan. Demi keselamatanku pun keselamatan Mamaku. Mamaku harus pergi meninggalkanku demi aku. Dalam rangka menyelesaikan semua masalah itu, tapi pergi entah ke mana, entah berapa lama. Dan masa itu adalah definisi neraka bagiku. Aku hidup selalu dengan Mamaku, us against the world. Tapi hanya dalam sekejap mata, aku hanya berdiri sendiri. Tak hanya sehari kuhabiskan mengurung diri di kamar dan mencucurkan air mata. Aku benar-benar dalam masa terburukku. 

Wah... ternyata banyak juga yang perlu ditulis. Kayaknya ini akan menjadi beberapa bagian (entah berapa). Draf pertama ku, ku akhiri.

You May Also Like

0 comments